Terkadang dalam hidup kita menganggap remeh sesuatu. Bagi sebagian besar tukang kebun, isi benih adalah salah satu elemen tersebut. Kami menekannya ke dalam tanah atau substrat awal dan menunggu (terkadang dengan tidak sabar) hingga benih berkecambah. Namun memahami proses perkecambahan dimulai dari anatomi benih.

Anatomi benih

Jika dipikir-pikir, benih adalah perangkat yang cukup cerdik, karena benih dapat mengontrol kapan benih tersebut hidup. Bagi sebagian besar spesies tumbuhan, transformasi dari biji menjadi bibit terjadi ketika kondisi suhu, kelembapan, oksigen, dan cahaya tertentu terpenuhi. Untuk memahami proses perkecambahan , mari kita lihat dulu bagian-bagian penyusun benih:

  • Kulit Biji – Anatomi benih dimulai dengan kulit biji. Baik tipis dan lunak atau tebal dan keras, kulit biji ini melindungi embrio dari cedera fisik dan dehidrasi.
  • Embrio – Embrio tersembunyi di dalam integumen. Pada hakikatnya embrio adalah tumbuhan kecil yang mempunyai akar, batang dan daun.
  • Endosperma – Bagian ketiga dari benih adalah endosperma. Jaringan ini berisi sumber makanan bagi bibit. Hal ini memberikan energi bagi tanaman yang baru muncul untuk tumbuh hingga mampu menghasilkan makanannya sendiri melalui fotosintesis.

Apa lagi yang ada di dalam bijinya?

Meskipun kulit biji, embrio, dan endosperma membentuk anatomi benih, namun hal-hal tersebut tidak menjelaskan keseluruhan cerita. Benih itu sendiri merupakan hasil reproduksi seksual. Oleh karena itu, itu berisi DNA ibu dan ayahnya. Untuk spesies yang subur , salinan DNAnya hampir sama karena serbuk sari dan bakal biji berasal dari tumbuhan yang sama.

Dalam kasus penyerbukan silang, DNA ibu dan ayah berasal dari tumbuhan berbeda. Penyerbukan silang memungkinkan pemulia tanaman mengembangkan varietas hibrida dari dua atau lebih tanaman berbeda namun berkerabat. Banyak spesies tumbuhan bersifat poliploidi, artinya mereka memiliki lebih dari satu pasang kromosom homolog.

Kromosom terkandung dalam sel embrio. Embrio juga mengandung bagian struktur benih berikut:

  • Kotiledon — Daun embrio ini adalah yang pertama muncul selama perkecambahan. Spesies tumbuhan, seperti rumput, memiliki kotiledon dan diberi label monokotil. Yang mempunyai dua kotiledon disebut dikotil.
  • Hipokotil — Titik pertemuan kotiledon dengan radikula atau akar embrio adalah hipokotil. Setelah akar muncul dari biji, hipokotil bertanggung jawab untuk mengangkat ujung tumbuh, dan pada banyak spesies tumbuhan, kulit biji yang berisi kotiledon, berada di atas tanah.
  • Plumule – Bagian penting dari embrio benih ini akan berkembang menjadi tunas tanaman. Daun sejati pertama akan tumbuh dari bulu kecil tersebut.
  • Mycropyle — Sebuah lubang kecil di kulit biji, mycropyle memungkinkan pertukaran gas dan air. Bagi banyak spesies tanaman, air dan oksigen harus ada untuk memicu perkecambahan.
  • Radikel — Menyerupai ekor kecil pada spesies seperti kacang polong, radikula atau akar adalah bagian pertama embrio yang muncul dari kulit biji selama proses perkecambahan.

Bagaimana benih berkecambah?

Seperti yang Anda lihat, struktur benih berperan dalam proses perkecambahan. Saat kita mengubur benih ini di dalam tanah, kita berharap hal berikut akan terjadi:

  • Pencernaan dan translokasi — Air mengaktifkan enzim di dalam benih. Enzim-enzim ini bertanggung jawab untuk memecah makanan yang disimpan dan membuatnya tersedia bagi embrio.
  • Perkecambahan – Embrio mulai tumbuh dan radikula muncul dari integumen. Hipokotil telah mendorong kulit biji yang berisi kotiledon ke atas melalui garis tanah, sehingga kotiledon akan terlepas dari kulit biji.

Dari sana, pertumbuhan tanaman terus berlanjut. Bulu kecil itu akan menghasilkan daun sejati pertama dan kita akan segera memiliki tanaman yang layak untuk dijadikan makanan, menghiasi rumah kita, atau menghiasi lanskap kita.

Tinggalkan Balasan